Nasib Indonesia

Mengapa negeri ini senang banget menempatkan politik sebagai panglima? Apakah karena arti politik itu sendiri : ilmu kekuasaan?

Artinya, di negeri ini, mungkin orang pingin banget JADI PENGUASA. Entah yang jadi penguasa itu dia sendiri, keluarganya, anggota partainya, kroninya, selingkuhannya, dll. Mereka senang senang aja.

Mengapa orang tidak senang untuk bisa berbagi dengan orang lain? Menjadi besar tapi tidak untuk diri dan keluarganya pribadi? Contoh macam Bill Gates dengan yayasannya. Atau si penerima Nobel dari Pakistan kemarin? (penulis lupa namanya). Mengapa?

Mengapa tidak bangga jadi orang yang produktif bagi diri dan bangsanya?

Politikus, kerjanya cuma bikin undang-undang. Sah sana sah sini. Rapat sana rapat sini. Lobi sana lobi sini. Kalau undang-undang dah jadi, pelaksana dan pengawasan diserahkan lembaga negara lain. Contoh UU Lalu lintas, pelaksana dan pengawasnya Polisi kan? Gak mungkin para politikus nongkrong pinggir jalan tiap hari.

Jadi, kerjanya dikit banget. Lha wong UU itu rancangannya dibuat oleh instansi yang bersangkutan kok. Seperti UU lalu lintas, yang bikin RUU-nya ya polisi juga. Jadi para politikus itu tinggal rapat & debat, ketok palu apa enggak. Masalahnya, mengapa mereka jadi lembaga yang sangat TINGGI dan DIPUJA di negeri ini?

Mengapa tiap 5 tahun negeri ini harus berhura-hura untuk sebuah hajatan pesta demokrasi? Dimana tujuan akhirnya cuma menempatkan para politikus-politikus yang kerjanya sedikit itu, untuk duduk di kursi gak produktif tapi dianggap terhormat itu?

Sementara golongan yang lebih produktif :

  • Petani,
  • Nelayan,
  • Pedagang,
  • Pengusaha,
  • Hakim,
  • Polisi,
  • Karyawan,
  • Buruh,
  • Pelajar,
  • DLL … DLL … DLL …

Kelak harus cium kaki setor uang buat mereka?

Petani dag dig dug dengan UU agraria. Nelayan dag dig dug dengan pembahasan kenaikan BBM. Semuanya berkat satu kata penting :

UU !

Yang sialnya, dimonopoli pengesahannya oleh para politikus. Makanya jangan heran, negeri ini gak akan maju!

Solusinya gimana?

Pangkas biaya demokrasi!

Jangan bayarin para politikus itu dengan uang negara. Mendingan uangnya buat anggaran biaya pertahanan, subsidi pendidikan atau kesehatan, kirim dokter atau guru agama ke pelosok daerah, atau lainnya yang jelas – jelas lebih produktif.

Pangkas kekuasaan para politikus.

UU bisa kok digarap pemerintah & Komisi yudisial atau hakim. Bukan apa-apa, penulis sama sekali nggak percaya dengan kemampuan para politikus kita. Banyak yang lulusan kampus gak jelas, usianya tua-tua, mikirnya duit & fasilitas melulu.

Kalau hakim atau tokoh agama kan memang harus melalui jenjang profesi yang panjang. Kalau mereka melakukan kesalahan dalam kerjanya, tinggal copot terus diadili. Kalau politikus gak bisa. Atas nama demokrasi katanya.

Pangkas biaya & wewenang pemerintah.

Biar mereka jadi fungsi penyedia fasilitas (fisik & non-fisik) dan regulator aja. Soal dana, jangan beri kesempatan pemerintah berfoya-foya. Biar orang mikir-mikir kalau mau jadi pejabat. So, pejabat nantinya akan hadir dari orang-orang yang berdedikasi.

Seperti guru, hadir karena tuntutan nurani tanpa memandang materi. Kalau guru bisa digituin dan ternyata masih ada jutaan guru yang bertahan, kenapa politikus dan pejabat tidak?

Ini berangkat dari kekesalan, bahwa ternyata, negeri ini lebih dikuasai orang-orang oportunis daripada golongan produktif.

Petani masih menderita, nelayan apalagi, guru masih miskin, buruh apalagi, karyawan deg-degan PHK, pengusaha empot-empotan berusaha, wiraswasta harus berdiri sendiri, murid sekolah mahal ke sekolah. Mengapa bukan mereka yang menjadi sakaguru negeri ini? Biarkan mereka berkembang dengan kemampuan terbaik mereka, dengan fasilitas dan dukungan regulasi pemerintah yang memihak mereka?

Ingat ungkapan ini :

  1. Orang yang tahu bahwa dia tahu.
  2. Orang yang tidak tahu bahwa dia tahu.
  3. Orang yang tahu bahwa dia tidak tahu.
  4. Orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Penulis nilai, secara umum masyarakat Indonesia tercinta ini adalah kelompok nomor 2. mereka tidak tahu bahwa mereka tahu.

Masyarakat kita rajin dan pekerja keras. Lihat sawah-sawah kita yang amat luas. Bagaimana para petani kita menanamnya? Mereka menancapkannya satu persatu!!

Lihat para buruh yang bekerja di pabrik – pabrik. Pukul berapa mereka berangkat kerja? Berapa jam mereka bekerja dalam sehari?

Lihat dokter – dokter kita. Berapa jam mereka praktek dalam sehari?

Lihat pelajar – pelajar kita. Apa saja yang sudah mereka pelajari di sekolah?

Lihat para pedagang kaki lima.

Lihat para nelayan.

Semua memperlihatkan dedikasinya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memperoleh yang terbaik yang mereka bisa.

Tapi mengapa petani tetap miskin? Buruh miskin? Pedagang, nelayan, karyawan … Semua miskin.

Penulis pernah chatting dengan seorang warga Argentina, saat terjadi krisis ekonomi hebat melanda mereka, membuat mereka rela mengemis di jalan-jalan.

Mereka bertanya, berapa gaji penulis (saat itu penulis masih jadi pegawai swasta bergaji 2.5jt), penulis jawab gaji penulis sekitar 250 USD (1 USD 10.000 rupiah). Dia terkejut sekali. Menyangka penulis tidak akan mampu hidup saat itu.

Padahal,penulis bisa beli tanah dan motor dengan gaji sebesar itu. Penulis bayangkan, berapa gaji para buruh kita dibanding mereka??? (UMR Rp.900rb, berarti hanya 90 USD saja!).

Padahal, di luar negeri, TKI jadi idaman. Karena kerja keras dan kejujuran mereka, rakyat Korea sangat menghormati TKI yang bekerja di pabrik-pabrik dan perusahaan mereka.

Negeri ini kaya !

Satu kabupaten di Halmahera Selatan saja, punya tambang minyak, besi, emas, batu mulia, mutiara, kelapa dan jalur ikan yang padat. Itu baru satu kabupaten!

Rakyat negeri ini pekerja keras dan mampu berhemat.

Lihat para pengusaha warteg. Mereka rela hidup berdempet-dempetan di petak kontrakan sempit. Kalau amil zakat lewat, mereka pasti diberi kupon.

Padahal di kampung mereka, rumah dan kendaraan mereka mewah.

Tapi mengapa negeri ini tetap miskin?

Mengapa masyarakatnya tetap bodoh?

Mengapa mencapai kemakmuran bangsa susahnya bukan main?

Suatu hari, penulis membaca koran, ada petinggi partai politik yang mengecam adanya proses delegitimasi parpol oleh pihak-pihak tertentu. Penulis ketawa membacanya. Delegitimasi dan (mungkin) mengarah pada pembunuhan karakter (character assasination) partai dan para tokohnya itu; sebenarnya dilakukan oleh mereka sendiri!!!

Coba tengok kelakuan mereka. Mereka diam saat buruh mengeluh penetapan UMR yang tidak sesuai keadaan. Tapi berkoar kencang saat berbagai fasilitas (terutama kenaikan gaji) tidak diluluskan pemerintah.

Lha, kalangan produktif itu siapa??? Para buruh jelas – jelas berkarya dengan tangan – tangan mereka. Mereka banting tulang setiap hari, bahkan kadang rela lembur demi kebutuhan hidup.

Para politikus??? Enak-enakan jalan ke luar negeri dengan fasilitas negara. menginap di hotel bintang tujuh. Sampai yang paling memuakkan : mereka meluluskan kenaikan tarif tol, tapi minta fasilitas GRATIS lewat tol!!!!

SIAL!!!! Jadi pembahasan UU ini jadi tawar menawar dengan pemerintah???!!!!! Maaf … penulis emosi … seharusnya penulis tidak layak menulis begini … Itu baru satu kasus kecil, dimana penulis yang tidak punya mobil tentu tidak mengalami dampaknya secara langsung …

So, mengapa rakyat ini tidak juga makmur? Padahal negeri ini kaya. Masyarakatnya pekerja keras. Pandai berhemat. Banyak yang pintar. Tapi mengapa??

Karena negeri ini dipimpin para oportunis. Para bandit. Tikus pengerat di lumbung padi. Mereka jual aset bangsa demi kekayaan pribadi.

Anda tahu komisi yang diperoleh oleh Menteri BUMN saat penjualan INDOSAT? Belum lagi penjualan aset lain??

SIALANNYA, ITU SEMUA DIATUR UNDANG – UNDANG!!!

Para politikus telah berkongsi untuk menghancurkan bangsa ini. Para komprador pemakan negeri, perusak sendi kehidupan rakyat!!! Apakah memang hanya Revolusi jawabannya???

Mari kita coba cari jawabannya masing – masing. Dan sama – sama kita bekerja, demi keadilan dan kemakmuran bangsa ini.

sumber

Kapurwakan

2 Tanggapan to “Nasib Indonesia”

  1. Salut sama penulis, mudah-mudahan ini ditulih dengan Iklash…

  2. dedi rosyadi Says:

    100 % setuju bang .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: