Karmaphala

Ada sepasang suami istri, hidupnya kurang sejahtera, ibarat lembu, mereka kelebihan beban. Pedati yang mereka tarik, terlampau banyak berisikan muatan. Namun apa mau dikata, kehidupan tidak memberi banyak pilihan, banyak keterbatasan. Kedua-duanya bukan orang terpelajar, tidak bisa mendapatkan pekerjan yang layak. Namun sekali lagi, apa mau dikata, Tuhan tidak memberikan banyak pilihan, Tuhan banyak memberikan keterbatasan. Dan keterbatasan yang paling fatal bagi mereka adalah kurangnya kecerdasan. Mungkin hanya momongan yang bisa menghibur, sedikit menghibur segala kesesakan mereka, begitu kecerdasan mereka yang terbatas berkata.

Dan, Tuhan rupanya tahu akan hal itu, sang istri mengandung, betapa bahagianya mereka. Demi mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan, mereka mengadakan selamatan, mengundang tetangga kanan dan kiri, walaupun segalanya harus dibeayai dengan uang hasil berhutang. Sama-sama mereka menghaturkan rasa terima kasih kepada Tuhan, para tetangga terenyuh, dengan tulus mereka ikut berdoa syukur. Dan kelahiran sang momongan-pun tiba.

Tapi, apa mau dikata, ternyata… sang bayi lahir tidak wajar, dengan kepala yang besar. Menurut dokter, bayi itu terkena Hydrocepallus, butuh beaya besar untuk membuatnya sembuh… betapa ironisnya.

Banyak pemuka agama yang menasehati, agar mereka bersabar, itu adalah UJIAN, hendaknya berserah diri, menerima dengan lapang dada kehendak Tuhan, karena pasti ada hikmah dibalik semua itu. Kalaupun tidak ada, pasti kelak, di alam ‘sana’, mereka akan mendapat ganti rugi atas segala kepahitan yang mereka alami.

Kelak… tidak tahu kapan… Dibelakang mereka, banyak juga tetangga yang kasak-kusuk, bahwa kehadiran momongan yang cacat tersebut adalah AZAB Tuhan kepada orang tuanya. Sepasang suami istri itu cuma bisa diam… Mau apa lagi? Walau dalam hati kecil, mereka merasa Tuhan telah mempermainkan. Lengkap sudah UJIAN ini.

Ah… Saat aku mendengarnya, aku cuma bisa berucap : Kalau Tuhan memang hendak menguji atau mengazab, seyogyanya jangan menimpakan penderitaan ujian atau azab itu pada bayi yang masih polos itu. Beri saja Hydrocepallus atau penyakit yang lain pada salah satu orang tuanya. Kasihan, kalau kelahiran seorang bayi hanya sekedar untuk bahan ujian atau azab bagi orang tuanya. Demi sekedar tujuan itu, sang bayi harus kesakitan semenjak kelahiran pertamanya. Adilkan? Naif, sangat naif lah DIA yang membuat ujian atau azab tersebut.

Sebaliknya, ada sepasang suami istri yang mapan, berharap seorang momongan. Tuhan mengabulkan, bersyukurlah mereka. Menjelang kelahiran, sang bayi bercacat, sama, terkena Hydrocepallus. Tapi karena mereka berada, penyakit sang bayi bisa ditangani… Tuhan Maha Adil bagi mereka. Tuhan telah menguji mereka dan mereka telah lulus dari ujian-Nya.

Banyak contoh kasus lain, selain hanya masalah lahir melahirkan. Ada seseorang yang lahir cantik. Tapi kurang kecerdasannya. Karena penampilan fisiknya, ia gampang memperoleh pekerjaan layak. Ini anugerah, katanya.

Tapi namanya kurang cerdas, pekerjaannya amburadul. Ujung-ujungnya ia hanya menjadi ‘penghibur’ sang boss. Dari sanalah ia mendapatkan penghasilan, bisa menghidupi keluarganya. Dirumah, ayah dan ibunya seringkali memanjatkan doa syukur, karena anaknya telah memperoleh pekerjaan mapan. Dalam kondisi keluarga yang kekurangan, dengan banyak anak yang masih butuh biaya pendidikan, ditambah kondisi ayahnya yang sakit-sakitan, keadaan itu benar-benar sebuah anugerah dari Tuhan. Padahal disana, sang anak tengah melakoni peran yang bisa membuat kedua orang tuanya jantungan.

Ada yang berkilah melihat kasus ini. Ah, itu karena si cantik tidak kuat godaan? Padahal si cantik bukan tipe gampang tergoda. Darimana mereka tahu? Si cantik melakukannya karena memang tidak ada pilihan lain. Hanya itu yang ada didepannya. Dan hanya itu yang bisa membantu keluarganya.

Ada yang Cuma berkomentar. Kecantikan adalah anugerah, tapi bisa menjadi petaka bagi yang tidak bisa menjaganya.

Ah, gampang memang mulut ngomong..

Si cantik dalam dilema, Ah seandainya aku cantik sekaligus cerdas, gak bakalan aku terjerat kehidupan seperti ini. Seandainya tidak cerdas pun, tapi keluarganya tidak semenderita seperti itu, gak bakalan juga aku terjerat kehidupan seperti ini. Si cantik mengeluh. Dan para pembela Tuhan pun tetap menghakimi, Dasar kamu aja yang tidak kuat iman!

Sedangkan di lain tempat, ada yang dilahirkan cerdas, tapi tidak beruntung, karena fisiknya pas-pasan dan berpenyakit asma akut. Lahir dari keluarga tidak mampu pula. Kecerdasan mereka sia-sia. Tak berguna. Tak ada yang mau memanfaatkan ‘kecerdasan’ nya karena sebab penyakitnya. Mutiara yang lahir ini seolah lahir sia-sia, tak berguna.

Si cerdas berdoa : Ah, Tuhan, mengapa Kau berikan aku kecerdasan bila tak berguna, sia-sia, tidak bisa dimanfaatkan. Lebih baik, jangan beri aku kecerdasan dong Tuhan, biar aku tidak sekecewa ini. Lantas, apa tujuan-Mu?

Dan, kecerdasannya pun sia-sia, hingga akhir hayatnya. Ujian. Kata orang.

Kesia-siaan yang akan berbalas kelak di alam ‘sana’, sebagian lagi berkata.

Ada yang menghakimi lebih ekstrim, Itu adalah Azab.

Dan ada pula yang sekedar berceloteh : Itu memang NASIB-nya. Ah, ya sudah.

Bahkan ada yang lebih ekstrim. Ada seseorang yang lahir dikeluarga kaya raya. Semenjak kecil terbiasa dengan kemewahan dan kemanjaan. Segala kebutuhannya tercukupi. Apa-apa tinggal main suruh pembantu.

Sejak Play Group, sekolahannya sekolah yang bonafide. Kuliah pun diluar negeri. Lepas kuliah, pekerjaan sudah siap, tinggal meneruskan bisnis keluarga. Sampai tua ia sejahtera. Padahal kerjanya cuma nyantai-nyantai aja.

Tapi keberuntungan seolah tak mau berhenti menghampiri. Kata orang itu adalah Hoki. Tuhan sayang sama dia. Walaupun dengan segala kekayaannya, dia bisa berbuat semau gue, bisa meniduri segala macam jenis wanita yang ia mau, dan punya banyak istri simpanan. Walaupun begitu, kehormatan dan keberuntungan, tetap saja menghampirinya.

Ada yang iri kasak-kusuk : Lihat saja ntar kalau mati, pasti masuk neraka. Keadaannya sekarang Cuma sekedar dimanja sementara oleh Tuhan.

Ada yang agak halus, walau terkandung kedengkian : Ah, kasihan, dia gak kuat godaan harta. Kalau aku pasti gak bakalan seperti itu, kasihan, neraka akan menjadi balasan orang seperti itu. YANG PADA NGIRI DOANYA JELEK SEMUA.

Sedangkan kebalikan diatas, ada seseorang yang lahir dari keluarga miskin. Semenjak kecil terbiasa dengan kekurangan, makanya ia rajin karena tuntutan keadaan.

Bila gak rajin, mau makan apa? Sekolahpun sekolahan kelas bawah, lulus SMU sudah cukup bagus, tidak bisa kuliah karena keterbatasan. Dia sangat rajin, tekun, tidak suka bermalas-malasan. Toh, keberuntungan juga selalu menjauh. Apapun yang ia harapkan lepas. Apapun yang ia rencanakan matang-matang berantakan.

Lelah juga akhirnya dia. Sudah sering semenjak dia muda mendapat ceramah, jangan patah semangat, jangan menyerah, kamu pasti berhasil, Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar. Toh ketika kehidupannya tetap begitu-begitu juga, ia pun muak mendengarnya lagi.

Dia mencari pegangan, bertanya kesana dan kesini, jawabannya klise, Ujian, harus sabar. Dia protes, kurang sabar bagaimana lagi aku?

Ada yang keras memberi jawaban : Itu semua peringatan atas segala dosa-dosamu yang kamu lakukan walaupun orang pada gak tau, makanya perbaiki diri.

Sok tahu..

…gerutu si rajin. Kalau memang itu hukuman, kok kayaknya gak sepadan dengan dosa yang ia lakukan? Disana, ada yang lebih hebat mengumbar maksiat, hidupnya enjoy enjoy aja.

Hati kecilnya berbisik : Kalau memang aku telah berbuat dosa besar, kapan kulakukan? Sebab penderitaan semacam ini sudah aku alami sejak aku ‘mbrojol’ dari vagina ibu.

Lalu kapan aku melakukan dosa itu? Apakah dosa turunan? Karena leluhurku memelihara tuyul?

Seharusnya kalau penderitaanku akibat dosa dosaku, harus ada rentang waktu dong dari detik aku ‘mbrojol’ sampai batas aku mengenal apa itu nikmatnya dosa, lalu aku berbuat dosa sesukaku, lalu hukuman turun. Itu baru masuk akal. Tapi setahuku, sejak aku ‘mbrojol’ aku sudah jadi terhukum, sampai sekarang. Wah Tuhan, gimana sih kamu ini?

Ada yang menasehati, jika kamu sabar, balasannya kelak di alam ‘sono’. Waduh, kapan itu? Nunggu kiamat. Weleh-weleh, ya kalau ada, kalau ga ada alam ‘sono’, lantas BAGAIMANA NASIB HAMBA? Yang kemudian aku dengar, orang ini menjadi Atheis sampai sekarang.

KETIDAK TERATURAN YANG TERATUR.. Sesungguhnya itulah yang terjadi.

Download e-Booknya DISINI

Pass: #.kapurwakan.wordpress.com (ganti “#” menjadi “www”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: